Warisan Islam Kairouan dan Tunisia

7 menit baca

Di dataran Tunisia tengah berdiri Kairouan, salah satu kota Islam tertua dan paling dimuliakan di Afrika Utara. Didirikan pada abad ke-7 sebagai pangkalan bagi perluasan Muslim ke seluruh Maghreb, kota ini tumbuh menjadi ibu kota besar bagi ilmu, kerajinan, dan perniagaan, dan selama berabad-abad ia dipandang sebagai kota terkemuka di Ifriqiya, wilayah historis yang berpusat di Tunisia modern. Masjid Agungnya termasuk monumen awal arsitektur Islam yang paling penting di mana pun.

Panduan ini memperkenalkan Kairouan beserta monumen-monumennya, menempatkannya dalam warisan Islam Tunisia yang lebih luas, dan mengarahkan Anda ke kota-kota pesisir serta pertalian dinasti yang menghubungkan Ifriqiya dengan Mesir dan seluruh dunia Mediterania. Panduan ini ditulis bagi wisatawan yang menginginkan sejarah di balik tembok berwarna madu itu, bukan sekadar fotonya.

Kota yang lahir dari penaklukan

Kairouan didirikan sekitar tahun 670 oleh panglima Umayyah Uqba ibn Nafi, yang memilih lokasi di pedalaman, jauh dari pesisir beserta para perompaknya, sebagai garnisun tempat pasukan agama baru itu dapat mendesak ke barat menembus Maghreb. Dari awal yang bersifat militer itu, ia menjadi kota Muslim besar pertama di Afrika Utara dan, selama beberapa generasi, jantung politik sekaligus keagamaannya.

Seiring kawasan itu menjadi tenang, Kairouan menarik para ulama, saudagar, dan perajin, dan reputasinya dalam keilmuan serta ketakwaan menyebar ke seluruh dunia Islam barat. Di zaman ketika perjalanan berlangsung lambat dan berbahaya, kota ini menjadi tujuan tersendiri, tempat menuntut ilmu dan, bagi banyak orang di Maghreb, pusat pengabdian yang dijunjung setinggi-tingginya setelah kota-kota suci di timur.

Masjid Agung Kairouan

Masjid Agung, yang juga disebut Masjid Uqba mengikuti nama pendiri kota, adalah monumen tertinggi Kairouan sekaligus salah satu masjid tertua dan paling berpengaruh di dunia Islam. Meski didirikan bersamaan dengan kotanya, wujudnya yang sekarang sebagian besar berasal dari abad ke-9, ketika para penguasa Aghlabiyah membangunnya kembali dalam skala monumental. Halaman persegi panjangnya yang sangat luas, dikelilingi arkade, membuka ke ruang salat hipostil yang dalam, yang hutan tiangnya, banyak diselamatkan dari bangunan Romawi dan Bizantium terdahulu, menuntun pandangan ke arah mihrab.

Menjulang di atas halaman itu berdiri menara persegi raksasa dengan tiga tingkat yang mengecil ke atas, yang kerap disebut termasuk menara tertua yang masih bertahan di mana pun sekaligus model bagi menara-menara di seluruh Maghreb dan Andalusia. Skalanya, batu berwarna madunya, dan usianya yang begitu tua membuat kunjungan ke sini tak terlupakan, dan bangunan ini telah menjadi acuan arsitektur masjid di dunia Muslim barat selama lebih dari seribu tahun.

  • Ruang salat Aghlabiyah abad ke-9 beserta tiang-tiangnya
  • Salah satu menara tertua yang masih bertahan di dunia Islam
  • Halaman berarkade yang luas dari batu berwarna madu

Kolam-kolam Aghlabiyah

Dinasti Aghlabiyah, yang memerintah Ifriqiya pada abad ke-9 di bawah otoritas jauh para khalifah Abbasiyah di Baghdad, termasuk pembangun besar di dunia Islam barat awal, dan karyanya jauh melampaui masjid. Di tepi Kairouan terhampar kolam-kolam Aghlabiyah, waduk terbuka berukuran raksasa yang dahulu menampung air yang dialirkan ke kota lewat saluran air, sebuah pencapaian rekayasa hidraulik yang menopang penduduk pedalaman dalam jumlah besar di negeri yang kering.

Kolam terbesar yang masih bertahan berupa kolam bundar yang lebar, geometrinya masih terbaca setelah lebih dari seribu tahun. Bersama sumur-sumur penampung dan saluran yang mengisinya, kolam-kolam ini mengingatkan bahwa zaman keemasan Kairouan tidak hanya bertumpu pada iman dan keilmuan, tetapi juga pada penguasaan praktis atas air, yang tanpanya tidak ada kota di tepi gurun yang bisa berkembang.

Kota para ulama dan tempat ziarah

Wibawa Kairouan terutama bertumpu pada keilmuan. Sejak masa awal, kota ini menjadi pusat terkemuka kajian hukum Islam di Maghreb, dan karya-karya yang dihimpun para ahli fikihnya membentuk kehidupan intelektual dunia Muslim barat selama berabad-abad. Medina yang tumbuh di sekeliling Masjid Agung melestarikan warisan itu dalam lorong-lorong rumah berkapur putih, bengkel-bengkel kerajinan, dan masjid-masjid bersejarahnya yang lebih kecil.

Di antaranya terdapat Masjid Tiga Pintu dari abad ke-9, yang termasyhur karena fasad batunya yang dipahat halus, dan, di tepi kota, Zawiya Sidi Sahib, kompleks makam dari era Utsmaniyah yang halaman-halamannya berpendar oleh ubin berwarna dan plesteran ukir. Kairouan juga terkenal dengan permadaninya, dan tradisi menyimpul permadani dengan tangan masih terjalin dalam kehidupan medina.

  • Lorong, bengkel, dan masjid bersejarah di medina
  • Fasad berukir Masjid Tiga Pintu
  • Zawiya Sidi Sahib yang berhias ubin

Melampaui Kairouan: pesisir Tunisia

Kairouan adalah jantung warisan Islam Tunisia, tetapi jauh dari keseluruhannya. Di ibu kota, Tunis, Masjid Zaytuna yang agung menjadi jangkar medina berliku berisi souk, madrasah, dan istana yang juga merupakan situs Warisan Dunia dan, seperti Kairouan, pusat keilmuan bersejarah. Menyusuri pesisir, Sousse melestarikan medina yang terawat dengan ribat dari masa awal, tempat khalwat keagamaan berbenteng dari zaman yang sama dengan Masjid Agung, dan Monastir di dekatnya memiliki ribat tersendiri.

Pesisir ini juga menyimpan ingatan tentang Fatimiyah, dinasti yang bangkit di Ifriqiya pada awal abad ke-10 dan membangun pelabuhan berbenteng Mahdia sebelum bergerak ke timur untuk mendirikan Kairo dan memerintah sebagian besar dunia Muslim dari sana. Menelusuri benang itu dari pantai Tunisia hingga Sungai Nil adalah salah satu kenikmatan bepergian di kawasan ini, dan hal itu menghubungkan Kairouan dengan kisah Afrika Utara Islam yang lebih luas.

  • Masjid Zaytuna dan medina Tunis
  • Ribat di Sousse dan Monastir
  • Pelabuhan Fatimiyah Mahdia dan kaitannya dengan Kairo

Catatan praktis

Kairouan terletak di pedalaman, mudah dijangkau lewat jalan darat dari Tunis atau resor-resor pesisir, dan satu hari sudah cukup untuk monumen-monumen utamanya, meski menginap semalam memungkinkan Anda menikmati medina setelah rombongan bus pergi. Halaman Masjid Agung umumnya terbuka bagi pengunjung yang bersikap hormat, sementara ruang salatnya biasanya dilihat dari ambang pintu; pakaian sopan diharapkan, dan bahu serta lutut sebaiknya tertutup.

Musim semi dan musim gugur adalah musim paling nyaman, karena musim panas di pedalaman terasa terik. Bawalah air, kenakan sepatu yang kokoh untuk lorong-lorong yang tidak rata, dan sisakan waktu untuk sekadar duduk di halaman besarnya sembari mengamati cahaya bergerak di atas batu. Telusuri warisan Tunisia dalam katalog destinasi dan gunakan perencana itinerari untuk merangkai Kairouan dengan Tunis dan pesisir menjadi satu perjalanan yang tidak terburu-buru.

Pertanyaan yang sering diajukan

Siapa yang mendirikan Kairouan, dan kapan?

Kairouan didirikan sekitar tahun 670 oleh panglima Umayyah Uqba ibn Nafi sebagai garnisun pedalaman bagi perluasan Muslim ke seluruh Maghreb. Kota ini tumbuh menjadi kota Muslim besar pertama di Afrika Utara sekaligus pusat keilmuan terkemuka.

Berapa usia Masjid Agung Kairouan?

Masjid ini didirikan bersamaan dengan kotanya pada abad ke-7, tetapi wujudnya sekarang sebagian besar berasal dari pembangunan ulang abad ke-9 di bawah Aghlabiyah. Menara perseginya kerap disebut termasuk yang tertua yang masih bertahan di mana pun.

Bisakah pengunjung memasuki Masjid Agung?

Halaman berarkade yang luas umumnya terbuka bagi pengunjung yang bersikap hormat pada jam-jam tertentu, sementara ruang salatnya biasanya dilihat dari ambang pintu. Pakaian sopan yang menutup bahu dan lutut diharapkan, dan jam kunjungan bisa berubah di sekitar waktu salat.

Apa lagi yang sebaiknya saya lihat di Tunisia?

Selain Kairouan, medina Tunis beserta Masjid Zaytuna, ribat di Sousse dan Monastir, serta pelabuhan Fatimiyah Mahdia semuanya layak dikunjungi. Bersama-sama semuanya menelusuri sejarah Islam Tunisia yang panjang dari pesisir hingga pedalaman.

Siap mengubah bacaan ini menjadi perjalanan? Susun hari-hari Anda dengan perencana itinerari dan jelajahi panduan ziarah Madinah selengkapnya.